+62 857 4752 6576
ponpesnurulfajri.wrgt@gmail.com

Ketika Selamanya Ternyata Sementara

test

Dipublish pada 2026-03-11 18:04:35, ditulis oleh Rafly Eka Ramdani, S.Pd.

Manusia sering mengucapkan kata “selamanya” dengan begitu mudah. Selamanya bersama, selamanya mencintai, selamanya menjaga. Kata itu keluar dari bibir kita ketika waktu terasa luas, ketika masa depan terlihat panjang seperti jalan yang tidak memiliki ujung. Kita memperkenalkan seseorang kepada dunia sebagai bagian dari hidup kita, bukan hanya dengan nama atau statusnya, tetapi dengan janji-janji yang terasa begitu pasti: bahwa kita akan tetap ada, tetap bersama, tetap bertahan melewati apa pun. Namun hidup perlahan mengajarkan sesuatu yang tidak selalu ingin kita dengar: bahwa bahkan kata selamanya di dunia ini pun memiliki batas.
Sering kali manusia hidup seolah waktu selalu berpihak kepadanya. Kita menunda banyak hal dengan keyakinan sederhana bahwa hari esok masih tersedia. Kita menunda meminta maaf, menunda mengatakan terima kasih, menunda memberi perhatian kepada orang yang kita cintai, seolah waktu adalah sesuatu yang selalu menunggu kita siap. Padahal Allah sejak awal telah mengingatkan manusia tentang kenyataan hidup yang tidak bisa dihindari. Allah berfirman: كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ — Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian (QS. Ali Imran: 185). Ayat ini terdengar singkat, tetapi di dalamnya terdapat kebenaran yang sangat dalam: bahwa hidup ini tidak pernah menjanjikan kebersamaan yang abadi. Yang kita sebut “selamanya” sering kali hanyalah selama Allah masih mengizinkan kita berada dalam waktu yang sama.
Al-Qur’an bahkan bersumpah dengan waktu untuk mengingatkan manusia betapa berharganya setiap detik yang ia miliki. Allah berfirman: وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ — Demi masa, sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian (QS. Al-Asr: 1–2). Dalam penjelasan tafsir oleh Ibnu Katsir, manusia disebut merugi karena waktu terus berjalan sementara manusia sering lalai memanfaatkannya untuk kebaikan. Waktu tidak pernah berhenti, tidak pernah melambat, dan tidak pernah menunggu kita siap untuk kehilangan. Kadang hidup berubah hanya dalam satu kabar, satu peristiwa, atau satu perpisahan yang tidak pernah kita rencanakan.
Di dalam perjalanan hidup itu, manusia menemukan sesuatu yang membuat waktu terasa berarti: cinta. Cinta membuat hari-hari yang biasa menjadi berharga. Kehadiran seseorang dapat mengubah rutinitas yang sederhana menjadi sesuatu yang penuh makna. Namun cinta juga membawa satu kenyataan yang tidak dapat dipisahkan darinya: risiko kehilangan. Semakin dalam seseorang mencintai, semakin besar kemungkinan luka yang ia rasakan ketika perpisahan datang. Tetapi justru di situlah nilai cinta itu berada. Dalam Islam, mencintai bukan hanya sekadar perasaan yang lembut di dalam hati, tetapi juga bagian dari kesempurnaan iman. Rasulullah ﷺ bersabda: لا يؤمن أحدكم حتى يحب لأخيه ما يحب لنفسه — Tidak sempurna iman seseorang sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri (HR. Bukhari dan Muslim). Cinta yang diajarkan oleh Islam bukan hanya tentang memiliki, melainkan tentang memberi, menjaga, dan mendoakan. Bahkan ketika suatu hari kita harus belajar melepaskan.
Kehidupan sering memberikan satu pelajaran yang sangat pahit tetapi juga sangat dewasa: bahwa mencintai seseorang tidak selalu berarti kita akan berjalan bersamanya sampai akhir perjalanan dunia. Terkadang mencintai seseorang juga berarti belajar menerima kenyataan bahwa kita harus merelakan ia pergi lebih dulu. Dunia tidak pernah menjanjikan bahwa semua orang yang kita cintai akan tetap berada di sisi kita sampai waktu tua. Namun Islam memberi penghiburan yang sangat indah tentang cinta yang tidak berakhir dengan perpisahan dunia. Rasulullah ﷺ bersabda: المرء مع من أحب — Seseorang akan bersama dengan orang yang ia cintai (HR. Bukhari). Hadis ini memberi harapan bahwa cinta yang tulus tidak selalu berakhir dengan kehilangan, karena bisa jadi ia hanya sedang menunggu pertemuan kembali di kehidupan yang lebih abadi.
Ketika seseorang yang kita cintai pergi, makna kata selamanya sering berubah. Selamanya tidak lagi berarti berjalan bersama sepanjang hidup di dunia, tetapi berubah menjadi kenangan yang tidak pernah hilang, doa yang terus dipanjatkan, dan cinta yang tetap hidup di dalam hati. Para ulama telah lama mengingatkan bahwa dunia memang bukan tempat menetap, melainkan hanya tempat singgah. Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa dunia adalah perjalanan sementara menuju kehidupan yang sebenarnya di akhirat. Karena itu setiap pertemuan di dunia selalu membawa dua kemungkinan: kebersamaan sementara atau perpisahan sementara.
Akhirnya kehidupan sering mengajarkan satu hikmah yang sederhana tetapi sangat dalam. Banyak manusia baru menyadari nilai seseorang setelah ia tidak lagi berada di sampingnya. Kita baru menyadari betapa berharganya waktu yang pernah kita miliki bersama mereka. Kata-kata kecil seperti perhatian, senyuman, dan kebersamaan sederhana ternyata jauh lebih berharga daripada hal besar yang sering kita rencanakan untuk nanti. Namun hidup tidak selalu memberi kesempatan kedua untuk mengulang waktu yang telah lewat.
Karena itu mungkin pelajaran paling jujur yang diberikan kehidupan adalah belajar menghargai orang-orang yang ada di sekitar kita selagi mereka masih ada. Mengucapkan kasih sayang kepada pasangan kita sebelum waktu mengubah segalanya, memeluk orang tua kita sedikit lebih lama sebelum usia memisahkan kita, dan berbuat baik kepada sahabat-sahabat kita sebelum jalan hidup membawa kita ke arah yang berbeda. Sebab suatu hari nanti, ketika waktu telah berjalan jauh dan banyak hal berubah, kita mungkin akan menyadari bahwa yang paling kita rindukan bukanlah hal-hal besar dalam hidup, tetapi momen-momen sederhana yang dulu terasa biasa saja. Dan pada saat itu, mungkin yang tersisa hanyalah satu kalimat sunyi di dalam hati: seandainya dulu kita lebih menghargai waktu.